Informasi aktivitas Jama'ah tabligh On The Net

Friday, August 13, 2004

Jusuf Kalla kunjungi jamaah tabligh-

Jusuf Kalla kunjungi jamaah tabligh

Magetan,Surya - Calon wakil presiden (cawapres) M Jusuf Kalla secara
tiba-tiba berkunjung ke Kabupaten Magetan, Minggu (8/8). Cawapres
pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini, mengunjungi jamaah
tabligh di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah Desa Temboro, Kecamatan
Keras, Magetan.


Ia datang ke Ponpes Al-Fatah bersama rombongan dan wartawan Jakarta
dan tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Dari Jakarta, Jusuf Kalla dan
rombongan naik pesawat dan singgah di Lanud Iswahjudi, Maospati.
Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan darat menggunakan bus menuju
Ponpes Al-Fatah.

Tidak ada penyambutan khusus dari pihak ponpes terhadap kedatangan
Kalla. Usai diterima Istiqbal --penerima tamu, Kalla yang menggunakan
baju muslim warna putih, berpeci hitam dan celana hitam beserta
rombongan langsung menuju ke tempat utama berlangsungnya jamaah
tabligh yang terletak di belakang Ponpes Al-Fatah.

Wartawan tidak diperkenankan meliput atau mengambil gambar di tempat
utama. Kalau mau mengambil gambar, wartawan hanya mendapatkan izin di
depan ponpes tersebut.

Kalla mengikuti jamaah tabligh bersama 20.000 jamaah lainnya sekitar
tiga jam. Pria asal Makassar itu, juga ikut doa bersama yang diikuti
peserta jamaah tabligh dan salat duhur di tempat itu. Tepat pukul
13.00 WIB, Kalla dan rombongan baru keluar dari arena jamaah tabligh.

Kepada wartawan, Kalla mengaku salut terhadap pertemuan yang diadakan
di Ponpes Al-Fatah. Pertemuan tersebut diikuti seluruh jama'ah
tabligh yang akan mengadakan dakwah ke seluruh Indonesia dan luar
negeri.

Saat ditanya apakah kunjungan ke arena jama'ah tabligh ada kaitannya
dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) putaran kedua, Kalla secara tegas
membantahnya.

"Tidak ada sama sekali. Saya datang hanya silaturahmi biasa. Kan di
sini (Ponpes Al-Fatah) ada jama'ah sebanyak 30 ribu yang akan
berdakwah ke seluruh Indonesia dan luar negeri," tegas Kalla.

Sebaliknya, Kalla merasa perlu untuk belajar dari pelaksanaan jama'ah
tabligh. Bagimana menjalankan suatu cara berda'wah yang dilakukan
begitu iklas dan hebat. Bahkan dakwah dilakukan secara otomatis,
menggunakan biaya sendiri dan bisa dipikul semua orang.

"Siapapun orang itu. Baik, orang tidak mampu, kurang mampu dan mampu.
Mulai dari pegawai bisa hingga pegawai tinggi," terang Kalla.

Kalla mengku, sejak di Makassar selalu melakukan silaturahmi dengan
jama'ah ini. Bahkan, sejak di Mekah ketika menjalankan ibadah haji.
Usai mengikuti jama'ah tabligh, Kalla dijadwalkan mengunjungi salah
satu Ponpes di Malang. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Surabaya
guna menjenguk KH Abdulah Faqih, Piminan Ponpes Langitan Tuban yang
sedang sakit.

Ditemui secara terpisah, ustadz Mohammad Salim, penangung jawab
Istiqbal mengungkapkan, dengan berakirnya pelaksanaan jama'ah tabligh
di Ponpes Al-Fatah, pelaksanaan dakwah terus berljalan.

Sebanyak 2.000 rombongan peserta jama'ah tabligh akan dikirim ke
semua pelosok Indonesia. Masing-masing rombongan terdiri atas 7
hingga 12 orang untuk melakukan dakwah ke masjid-masijid di tanah
air. Tempat yang akan dikunjungi Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan
dan Sumatera. Mereka semua dibekali dengan surat jalan dan identitas
diri. Kemudian setelah tiba di tempat yang dituju, mereka harus
melapor ke pihak keamanan.

"Soal biaya, jamaah tanggung sendiri. Semua orang kan diberi rezeki
oleh Allah SWT dan pasti akan mampu," tutur Salim.

Ia mengatakan, jama'ah tabligh awalnya dilakukan selama tiga hari.
Selama tiga hari tersebut, jama'ah akan dapat merasakan nikmatnya
hidup dan ketenangan batin. Pasalnya, selama tiga hari tersebut
mengamalkan agama secara baik dan benar. Kemudian, kalau ingin
mendalam, jama'ah ikut selama satu bulan dan empat bulan. "Insya
Allah, kita akan bisa merasakan nikmatnya kehidupan," paparnya.(fat)




Jusuf Kalla di tengah2 Jamaah Tabligh

RADAR MADIUN
Selasa, 10 Agt 2004 MJK Ikuti Tablig Akbar Temboro
MAGETAN' -- Hari terakhir tabligh akbar dan silaturahmi di Ponpes Al Fatah Temboro, Karas, Kabupaten Magetan, kemarin terasa istimewa. Ini karena Cawapres Muhammad Jusuf Kalla (MJK) berada di tengah-tengah puluhan ribuan jamaah yang berasal dari berbagai kawasan Indonesia dan belahan dunia. Cawapres pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini hadir dengan bersama rombongan.

Dia langsung masuk ke lokasi tabligh akbar yang digelar sejak pukul 10.00. Semua wartawan baik dari media cetak maupun elektronik, tidak ada yang diperbolehkan mengabadikan kegiatan tersebut. Dari pantauan koran ini, MJK tampak betah berlama-lama di Ponpes Al Fatah. Buktinya, meski kegiatan sudah beakhir sekitar pukul 12.00, cawapres dari Partai Demokrat ini juga belum keluar.Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di dalam kawasan yang memang dinyatakan terlarang untuk dipublikasikan tersebut. Baru sekitar pukul 12.30, MJK keluar lokasi didampingi KH Uzairon, Pimpinan Ponpes Al Fatah Temboro.

Kepada wartawan yang menemuinya, mantan Menko Kesra ini membantah jika kedatangannya dalam rangka persiapan pilpres putaran kedua."Tidak, hanya silaturahmi biasa. Kami sebelumnya juga pernah mengikuti kegiatan ini di Makassar," katanya singkat.Ia mengaku, selama ini, kagum dengan perjuangaan anggota anggota majelis tabligh dari pesantren di Temboro ini. Meski tanpa diberi modal, semua tetap semangat dalam melakukan dakwah.Kegiatan tahunan di Ponpes temboro ini, dimulai sejak hari Jumat lalu dan diikuti sekitar 20 ribu muslim dari seluruh Indonesia. Juga beberapa perwakilan, dari negera-negara ASEAN, Saudi Arabia, Pakistan, India dan beberapa negara muslim lainnya. "Ini hanya silaturahmi biasa. Hanya melakukan ritual dan mendekatkan diri kepada Allah," kata Ustad M Salim, salah seorang staf pesantren setempat. (eki)

Kiai Khos Hadiri ijtima Jamaah Tablighj di magetan

Kiai khos hadiri tabligh akbar Magetan, Surya - Tabligh akbar yang digelar Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fatah, Desa Temboro, Kecamatan Karangrejo, Magetan, ternyata bukan acara biasa. Buktinya, kiai khos asal Ponpes Langitan Tuban, KH Abdullah Fakih menyempatkan hadir dalam hajatan besar yang digelar 29-31 Agustus ini.
Kedatangan kiai yang memiliki pengaruh besar itu, tidak sendirian. Sekitar 200 ulama lainnya dari berbagai daerah di Indonesia juga datang dalam acara tersebut. Cuma, dari sekian banyak ulama tersebut, Abdullah Fakih yang dipandang sebagai ulama besar.
"KH Abdulah Fakih itu merupakan sesepuh dan kiai besar. Saat kami bercerita mau mengadakan acara ini, beliau janji hadir. Anda sendiri kan tadi ikut mendengar ceramahnya," sebut Ustadz M Salim, pelaksana harian Ponpes Al Fatah saat ditemui Surya, Jumat (29/8).
Kedatangan KH Abdullah Fakih, kata M Salim, semata-mata untuk melakukan silaturahmi di Ponpes Al Fatah. Sebagai sesepuh, KH Abdullah Fakih memberi ceramah usai melakukan shalat Jumat di hadapan sekitar 15.000 umat Islam yang sedang berkumpul di Ponpes Al Fatah.
Dalam ceramahnya selama 15 menit, Abdullah Fakih mengaku, dirinya bangga dan terharu umat Islam bisa berkumpul dalam satu tempat dengan jumlah yang amat banyak dalam majelis mubarakh di sini (Al Fatah,-Red).
Dia meminta, umat Islam harus selalu bertaqwa kepada Allah swt, terutama dalam mendirikan shalat. Shalat yang baik harus dilakukan secara jemaah dan lebih utama di masjid. "Jadilah pelopor jemaah. Lewat shalat jemaah, hidup akan lebih baik," ungkap KH Abdullah Fakih.
Kendati ada sekitar 200 ulama atau kiai berkumpul di Al Fatah, Ustadz Salim mengelak bahwa kegiatan ini bakal memutuskan atau memusyawarahkan sesuatu hal.
Para kiai datang ke acara tersebut, murni karena ingin ibadah dan silaturahmi. "Ulama berkumpul itu biasa. Sebagai umat Islam, kita harus melakukan bersilaturahim dengan yang lain," tambahnya.
Tak ada acara khusus
Berdasarkan pantauan Surya, Jumat (29/8), di Ponpes Al Fatah, tidak ada agenda acara khusus yang tersusun secara rapi. Jemaah yang mencapai jumlah sebanyak 15.000 itu hanya berkumpul di tanah lapang seluas dua hektar yang disebut medanjuro (tempat pertemuan), semata-mata untuk beribadah mendekatkan kepada Allah swt. Mereka seperti melakukan iktikaf di dalam masjid.
Bedanya, jemaah di Al Fatah tidak ditempatkan di masjid. Mereka menempati lahan persawahan yang habis dipanen. Lahan itu diberi tenda dengan tinggi sekitar lima meter dan bentuknya memanjang untuk menghindari terik matahari.
Jerami sebagai alas dasarnya, kemudian jamaah menggelar tikar, terpal atau gelaran lainnya.
Selain sebagai tempat iktikaf, tempat tersebut ternyata digunakan sebagai tempat istirahat selama tiga hari. Terlihat perbekalan makanan, minuman dan tas-tas jemaah juga banyak tersebar di medanjuro.
M Salim menambahkan, jemaah yang hadir merupakan alumni Ponpes Al Fatah mulai tahun 1950, pertama kali ponpes didirikan. Alumninya tersebar di seluruh pelosok tanah air, ada juga yang di luar negeri, di antaranya Malaysia, Thailand, Singapura, India, Banglades dan Madinah dengan jumlah sekitar 100 jemaah.
Siaga I dicabut
Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Heru Susanto, Jumat (29/8), menegaskan, Polda Jatim tetap melakukan pemantauan keamanan di beberapa tempat seperti Magetan maupun Surabaya, tempat turunnya penumpang yang mengikuti acara yang diselenggarakan Jemaah Tabligh di Magetan.
Pernyataan Kapolda tersebut disampaikan bersamaan dengan dicabutnya status siaga satu di Jatim yang telah diterapkan sejak Rabu (27/8) lalu menyusul kondusifnya keamanan di wilayah Jatim.
Beberapa Jemaah Tabligh yang mulai berdatangan di pelabuhan Tanjung Perak, tampak digeledah. "Kami tidak menemukan benda-benda yang membahayakan," kata Kapolda.
Dijelaskannya, setelah digeledah, peserta tabligh yang mencapai ribuan orang tersebut dikawal petugas hingga ke tempat penyelenggaraan acara.
Kapolda menampik anggapan jika sweeping yang dilakukan anggotanya terlalu berlebihan hingga memicu kemarahan MUI. "Kami melakukan dengan wajar memeriksa saku dan baju mereka," katanya. Ditambahkannya, jika aparat melakukan sweeping dengan melepas baju tentunya hal itu terlalu berlebihan. "Kami memperlakukan mereka dengan baik kok," kata Heru.
Sedangkan warga asing seperti Pakistan, Malaysia dan Singapura yang datang ke Indonesia telah melengkapi semua dokumen keimigrasian. "Tidak ada masalah dengan surat-surat masuk ke Indonesia," tandas kapolda. (fat/ted)
http://www.surya.co.id/30082003/13e.phtml